Sapa, Keindahan dibalik Kabut

Sapa merupakan destinasi yang paling saya tunggu-tunggu. Terletak di sebelah barat laut dari Hanoi dengan jarak sekitar 380 km, Sapa masih merupakan bagian dari pegunungan Fansipan. Sapa berada pada ketinggian 1650 m diatas permukaan laut. Suku-suku etnik minoritas Vietnam banyak mendiami kawasan ini. Keberadaan suku minoritas inilah yang kemudian membuat saya sangat penasaran dan tertarik mengunjungi Sapa.

Ncu (54 tahun) dari suku Black H'Mong
Puas menjelajah sekitar Danau Hoan Kiem, kami kembali ke Old Quarter. Masih ada waktu sekitar 1,5 jam sebelum kami dijemput untuk berangkat ke stasiun. Masih sempat untuk numpang mandi dan internet gratis di kantor tour agent. Numpang mandi? Iya, karena sejak tiba di Hanoi siang tadi, kami hanya titip tas di kantor tour agent dan pergi berkeliling dengan membawa daypack. Tujuannya tidak lain untuk menghemat biaya kamar.

Kami mulai cemas ketika waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam namun belum ada tanda-tanda kami akan dijemput. Mau pergi makan malam, tapi tanggung. Udara malam itu juga terasa gerah. Semakin membuat kesabaran kami menipis. Saya dan Rima memilih untuk duduk diluar kantor tour agent. Memperhatikan keramaian di depan kami, mengalihkan perhatian dari ketidaksabaran.


Akhirnya, sekitar pukul 19.30 datang mobil travel menjemput kami. Setelah berhenti beberapa kali di kantor tour agent lainnya untuk menjemput penumpang, kami tiba di stasiun kereta. Seorang wanita bertindak sebagai pemimpin rombongan. Dia memberitahukan cara membaca tiket kereta. Bagian mana yang menjelaskan mengenai jam keberangkatan, nomor gerbong, nomor kompartemen dan nomor tempat tidur. Setelah itu, dia mempersilakan rombongan untuk mencari kereta masing-masing.


Kereta kami berangkat sekitar pukul 21.00. Untuk perjalanan ke Sapa, kami memesan paket tour yang sudah termasuk tiket kereta PP soft sleeper dengan 4 tempat tidur dalam 1 kompartemen, hotel selama  2 hari 1 malam, paket trekking di Sapa, makan dan antar jemput dari dan ke stasiun. 


Perjalanan ke Sapa dengan kereta cukup nyaman. Apalagi kami menggunakan soft sleeper sehingga bisa “meluruskan” badan yang lelah seharian jalan-jalan. Selain soft sleeper dengan 4 tempat tidur dalam 1 kompartemen, ada juga yang hanya 2 tempat tidur dalam 1 kompartemen dan hard sleeper yang berisi 6 tempat tidur beralaskan matras tipis dalam 1 kompartemen.  Tiket duduk juga, hard seater dan soft seater. Tentunya harga menentukan tingkat kenyamanan yang didapat. Untuk lebih jelasnya mengenai perjalanan dengan menggunakan kereta di Vietnam atau di negara-negara lainnya, silakan kunjungi www.seat61.com.





Gerimis menyapa kami ketika sekitar pukul 5 pagi kereta sampai di Lao Cai, sebuah kota yang menjadi pintu masuk ke Sapa. Sesuai dengan petunjuk yang diberikan, kami harus berjalan keluar gedung stasiun untuk mencari mobil yang bertuliskan travel yang kami pesan. Tidak perlu khawatir jika tidak memesan paket perjalanan seperti kami. Didepan stasiun ada banyak bis atau mobil elf yang menawarkan jasa transportasi ke Sapa. Namun, saya kurang tahu berapa biayanya.




Perjalanan dari Lao Cai ke Sapa memakan waktu kurang lebih 1 jam. Sesampainya di hotel dan check in, kami mandi dan sarapan. Jam 8.30 kami berkumpul di lobby hotel dan kemudian dibagi dalam beberapa kelompok kecil untuk memulai trekking ke Desa Cat cat. Setiap kelompok berisi sekitar 7-10 orang turis dengan 1 guide wanita, penduduk lokal. Guide kelompok kami bernama Nini.



Gerimis masih turun mengiringi langkah kami ke Desa Cat cat. Menurut Nini, Bulan September sebenarnya waktu yang tepat untuk mengunjungi Sapa karena sawah-sawah sudah mulai menguning dan siap panen. Pemandangan jadi jauh lebih indah. Hanya saja, hujan tidak dapat diprediksi kedatangannya. Rombongan kami termasuk yang kurang beruntung. Hujan mulai turun sejak tengah malam tadi dan menurut prakiraan cuaca masih akan hujan sampai 3 hari ke depan. Hujan membuat kamera lebih banyak berada di dalam tas atau dibalik jaket dan kabut tebal turun menghalangi pandangan.




Desa Cat cat terletak di lembah dengan jarak 3 km dari hotel. Kondisi jalan menuju kesana cukup baik. Jalanannya sudah di aspal, walaupun aspal kasar, dan tangganya sudah dibangun dari batu yang kokoh. Saya hanya bisa bergumam bahwa perjalanan balik ke hotel akan terasa lebih berat karena harus menanjak sepanjang 3 km.




Nini menjelaskan kalau Desa Cat cat dihuni sekitar 1200-an orang yang sebagian besar bermata pencarian sebagai petani. Sebagian kecil lainnya membuat kerajinan untuk dijual ke wisatawan atau terlibat dalam bisnis pariwisata sebagai guide atau performer. Nini juga menjelaskan kalau pakaian yang dikenakan olehnya atau orang-orang dari berbagai suku lainnya di Sapa terbuat dari kulit batang daun ganja yang ditenun dan diberi pewarna biru alami. Semua proses tersebut mereka lakukan sendiri.






Batik versi Desa Cat Cat

Selesai melihat-lihat Desa Cat cat, Nini mengajak kami ke air terjun. Sayangnya saya lupa nama air terjun itu. Pada jam-jam tertentu, ada pertunjukkan tari-tarian di sebuah bangunan di dekat air terjun. Tari-tarian tersebut bercerita mengenai keseharian penduduk di Desa Cat cat. Selesai pertunjukan tari, kami kembali ke hotel.










Kami sampai lagi di hotel sekitar jam 13.30. Siang itu, kami punya waktu bebas untuk berjalan-jalan sendiri. Tadinya, kami berniat mengunjungi pasar untuk membeli oleh-oleh. Namun, setelah mandi dan makan siang, Rian dan Rima malah tertidur. Mungkin karena kombinasi lelah dan perut kenyang :)



Akhirnya, baru sekitar pukul 5 sore kami menuju pasar. Hujan sudah berhenti tapi kabut tebal masih tetap ada. Terlambat, sebagian besar lapak di pasar sudah tutup. Hanya tinggal toko-toko besar yang buka sampai malam. Tapi tentu saja harga barang-barangnya akan lebih mahal dari pasar. Akhirnya, kami hanya berjalan-jalan dan mampir ke sebuah gereja. Ini adalah gereja Lady Rosary yang dibangun tahun 1925. Bentuk bangunannya jauh lebih sederhana dari Hanoi Cathedral. Namun, kabut tebal yang menyelimuti dan suasana remang senja menimbulkan kesan yang lebih misterius.





Hujan kembali turun dan langit mulai gelap. Udara juga semakin dingin sehingga ide Rima untuk mampir ke sebuah cafe yang dilihatnya pada saat menuju pasar langsung disetujui. Cafe Baguettes and Chocolate for disadvantage youth begitu tulisan yang tertera di dinding cafe. Sayang, ketika saya bertanya lebih lanjut mengenai cafe ini ke pelayan, dia kesulitan menjelaskannya dalam bahasa Inggris. Tampaknya remaja-remaja yang menjadi pelayan di cafe itu lebih fasih berbahasa Perancis dari pada berbahasa Inggris.



Hot chocolate, tiramisu & lemon pie
Keesokan harinya, kami kembali akan trekking tapi kali ini ke Ta Van dan Lao Chai (beda dengan Lao Cai). Lao Chai merupakan desa tempat tinggal suku Black H’Mong. Nini tinggal di desa ini. Total jarak tempuh pada trekking ini 11 km dengan medan yang lebih berlumpur. Saya pun kemudian menyewa sepatu boot plastik daripada harus membawa pulang sepatu yang kotor. Hujan masih turun tapi tidak terlalu berkabut dibandingkan kemarin. 


Di awal trekking, kami melewati pasar Sapa. Rombongan kami langsung dihampiri oleh beberapa wanita yang menawarkan dagangannya. Tapi saya heran karena semakin kami berjalan menjauh dari pasar beberapa wanita masih tetap mengikuti rombongan kami. Ketika saya tanya Nini apa yang mereka inginkan, Nini hanya tersenyum. Tidak menjelaskan apa-apa. Tapi ketika saya tanya kemana mereka berjalan, Nini mengatakan kalau mereka berjalan menuju rumahnya karena mereka ini adalah wanita-wanita dari suku Black H’mong.





Para wanita ini seperti pendamping para turis. Satu orang akan mendampingi satu turis. Wanita yang mendampingi saya bernama Ncu. Bahasa Inggrisnya lumayan fasih. Usianya 54 tahun sehingga dia akan memuji siapa pun masih sangat muda jika dibandingkan dirinya. Ncu punya 4 anak dan 4 cucu. 



Rute trekking hari ini lebih parah dari kemarin. Naik turun bukit yang berlumpur dan licin karena hujan serta melewati pinggiran sawah. Para wanita yang mendampingi turis-turis tadi bergerak sigap membantu turis agar tidak terpeleset. Saya mulai menyadari kalau wanita-wanita ini menjual jasanya membantu melewati medan trekking yang licin. Harus saya akui, Ncu diusianya yang sudah lebih dari 50 tahun masih memiliki tenaga yang kuat dan gesit.



Bagian awal trekking. Jalannya masih gampang untuk dilewati

Kalau cuma hujan rintik-rintik, jaket dilepas untuk menutupi kamera




Meskipun rute yang dilewati cukup sulit, perjalanan tidak sia-sia ketika melihat pemandangan yang ada.

Karangan bunga yang dibuatkan oleh Ncu





Tepat waktu makan siang, kami sampai di Lao Chai. Rombongan turis kembali di serbu para penduduk lokal yang menawarkan dagangannya, termasuk Ncu. Saya tidak menyadari sebelumnya, namun tiba-tiba Ncu datang sudah dengan keranjang di punggungnya dan mulai menawarkan berbagai barang. Tentunya dengan harga yang jauh lebih tinggi dibanding harga di pasar. Katanya harga yang ia tawarkan jadi lebih mahal karena ia sudah membantu saya diperjalanan tadi. Akhirnya, antara terpaksa dan tidak tega membayangkan wanita seusia itu harus berjalan jauh hanya untuk “menjual” barang, saya pun membeli 1 tas darinya.





Wanita suku Black H'Mong
Setelah makan siang, kami kembali melanjutkan trekking ke desa tempat tinggal suku Red Dao dan Ta van. Kali ini jalan yang kali lewati lebih mudah karena datar dan sudah diaspal. Sebenarnya, tidak ada yang terlalu istimewa dari keseharian kehidupan masyarakat suku-suku ini. Membuat saya bertanya-tanya mengapa kita, yang terdiri dari ratusan suku tradisional dan alam yang juga indah tidak bisa menjual paket wisata hingga menjadi terkenal seperti disini?
Wanita suku Red Dao

Wanita suku Ta Van

Membuat arak dari beras

Bagian bawah dinding rumah diganjal botol untuk mencegah binatang masuk ke dalam rumah

Sekitar jam 2 kami sampai di titik akhir perjalanan. Sambil menunggu mobil yang akan menjemput, Nini membagikan kuesioner kepada kami. Isinya mengenai penilaian kami akan paket trekking yang kami ikuti selama 2 hari ini. Setelah mengisi kuesioner, mobil yang menjemput masih juga tak kunjung datang. Nini mengajak kami berjalan lagi ke atas dan menunggu di depan sebuah klinik. Paling tidak disini lebih kering dan kami bisa duduk sambil menunggu jemputan.





Setibanya di hotel, kami mandi dan makan sore. Sekitar jam 5 sore kami sudah di mobil menuju Lao Cai untuk naik kereta kembali ke Hanoi. Jam baru menunjukkan pukul 8 malam, ketika kereta mulai bergerak. Selimut dan bantal di kereta terlihat lebih kotor daripada waktu berangkat, tapi saya merasa lebih nyaman. Saya pun segera terlelap.  



Komentar

  1. Mbakyu, karangan bunga yang dibuatkan oleh Ncu itu, anggrek, bukan?? cantik sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya bukan anggrek, tapi semacam tanaman perdu. Dia petik dan rangkai di perjalanan. dibentuk jadi hati (love).

      Ncu juga buatkan kuda2an dari batang ilalang. sayangnya lupa di foto dan hancur karena saya masukkan kantong :(

      Hapus
  2. Mbak.. Paket ke sapa nya pesan dari tanah air or waktu di vietnam??
    Trm ksh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Paket ke Sapa nya beli di Hanoi. Udah termasuk tiket kereta sleeper (PP), hotel 2 hari 1 malam, 1x sarapan, 2x makan siang, 2x makan malam, antar jemput dari stasiun ke hotel (PP).

      Ada banyak tour provider di Vietnam, tapi rekomendasi saya adalah Sinh tourist (www.thesinhtourist.vn). fasilitasnya oke dan bisa dipercaya.

      Have fun in Vietnam!

      Hapus
  3. Menarik ya,untuk harga paket sapa di kasi berapa sama the sinh..harganya sist uda bandingkan dgn agent yg lain..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer